[SUMMARY] Pendakian Gunung Kerinci via Kersik Tuo
- bukharimartoredjo
- Nov 8, 2024
- 3 min read
Updated: Dec 4, 2024

Gunung Kerinci terkenal akan hutan hujan sumatera dan memiliki vegetasi rapat dengan beraneka suaka dan tumbuhan hidup berdampingan didalamnya. Salah satu yang paling terkenal yaitu Harimau Sumatera yang banyak mendiami hutan-huta terdalam hutan gunung ini. Tapi jangan khawatir, jalur pendakian gunung kerinci adalah daerah yang dihindari hewan hewan asli gunung kerinci karena selama pendakian dibuka, gunung ini ramai didaki setiap minggunya.
Saya tidak akan mendetailkan secara rinci baik itu perjalanan menuju Kerinci Jambi dari Jakarta atau merincikan pendakiannya. mohon dimaklumi karena saya baru menulis mengenai kegiatan ini 1tahun setelah pendakian kerinci :(.

Singkatnya, total perjalanan pergi-hiking-pulang yang saya alami berkisar satu minggu lebih sekian jam ya. Jika anda merupakan warga asli Sumbar/jambi dan skitarnya atau menggunakan pesawat tentu akan lebih cepat sampainya :).
Jujur meskipun perjalanan dari pelabuhan bakauheni menuju Tugu macan TN Kerinci Seblat didominasi jalan tol, tapi trip ini bikin kaki saya membengkak darah tersumbat karena terlalu lama duduk di bus lho. Yah kaki saya panjang juga sih, jadi mentok :(.
Karena beberapa kendala, bus kami serombongan akhirnya tiba di Kampung Kersik tuo, Desa Kayu Aro, Kab. kerinci, jambi. Desa ini terkenal akan penghasil teh berkualitas dari Jambi, karena kebun teh Kayu Aro merupakan kebun teh tertinggi di Indonesia.

Itinerary yang kami harapkan sudah jauh dari kata ketentuan awal sejak kami tahu sepanjang perjalanan dari Lmapung sudah menemui banyak kendala. Akibatnya, kami telat sampai Kayu aro, dan Pendakian kami mulai pada siang hari karena pagi nya digunakan untuk mempersiapkan simaksi, surat sehat dan packing packing.
Alhamdulillah pihak basecamp sangat support dan bapak ibu pengelola nya baik baik. Kami pun berangkat dari basecamp dan tiba di tugu rimba jam 10 lebih (foto kiri). Tidak ada peserta yang tidak dapat mengikuti pendakian, semua tetap join.

Sekitar 2 jam berjalan, kami tiba di suatu pohon yang sangat besar dengan lubang menganga dibagian bawahnya. Kerinci ini cukup unik yah karena vegetasinya rapat sehingga terasa sekali hutan hujan dan kelembaban nya yang tinggi. Juga banyak sekali pohon pohon yang besar menjulang tinggi.
Sedari awal kami memasuki hutan, bahkan tanah treknya saja sudah basah, berlumpur hitam lho.

Kami sekawanan kecil dari Open trip tiba di shelter 1 perkiraan diantara jam 4-5 sore. Untungnya, para guide dan porter sudah tiba lebih dulu sehingga tenda tenda sudah didirikan. Saya tinggal mencari tenda yang kira kira masih kosong lalu mengajak rekan rekan yang 'mendaki se-ritme' alias selalu berbarengan sepanjang trek hehe.
Saya bersama 3 rekan setenda memulai pendakian hari kedua esoknya pada pagi hari. tujuan hari kedua ini adalah checkpoint summit attack, yaitu shelter 3.

Saya dan rekan sependakian tiba lebih awal di shelter 3 pada kisaran jam 3 sore, tetapi sudah banyak pendaki lain yang mendirikan tenda. Cuaca saat itu tertutup kabut tebal dan agak gerimis.
Kami memulai summit attack pada pukul 4 subuh. Sebenarnya saya sudah bangun jam 3 tapi saya mau sedikit mengisi purut dahulu agar cukup bertenaga. Memang banyak sekali spot-spot curam dan elevasi naik drastis pada trekking sebelum shelter 1, tapi trek kerinci summit attack ini elevasi nya selalu curam mendekati 90°.

Saking gelapnya dan headlamp saya meredup karena sudah terpakai 2 malam sebelumnya, Tugu Yudha yang tertancap di jalur lereng kerinci saya lewatkan. Saya baru menyadari lokasi tugu yudha saat turun dari puncak.
Menuju puncak pun saya hampir tersesat dikarenakan sempat melipir ingin buang air kecil hehe. Berkat titik-titik cahaya headlamp pendaki lain saya bisak kembali ke jalur. Sunrise tipis-tipis menyapa saat summit trekking.

Alhamdulillah, atas puji dan restu Tuhan YME, saya bisa mendaratkan langkah di puncak gunung berapi tertinggi se-ASEAN ini. Meski diikuti badai dan kabut tebal, saya tetap syukuri. Pendakian kerinci kali ini saya tidak mendapati view sama sekali di puncak.
Syukurlah, saya bisa mengabadikan momen dengan teman" setenda. Dan boleh jujur, saya bertahan selama 2 jam di puncak kerinci dengan keadaan selalu diterpa badai. Selang beberapa menit setelah foto" dengan tim, saya pun turun dari puncak dengan tubuh menggigil hebat dan telapak tangan serta kaki mati rasa kedinginan.

Alhamdulillah lagi lagi keselamatan menyertai saya. meski dihantui hipotermia sejak di puncak, saya tiba di tenda tanpa perlu diselimuti blanket atau diberi minuman hangat darurat. Saya selamat wal afiat sampai basecamp kerinci.
Hanya saja selama perjalanan pulang menuju jakarta, kaki saya membengkak karena darah tersumbat. Yah terlalu lama duduk juga sih di bus. Kami dikejar waktu dan bus juga selalu diservis alias bus jelek, jadi selalu digeber.
Senin siang hari kerja, saya tiba di jakarta. yaa untunglah pekerjaan saya masih bisa dilakukan sembari remote xixi.

Terimakasih sudah menyempatkan membaca hingga akhir, netizens.
Salam lestari



Comments